Perjalanan Boyo Pogut hingga Menjadi Buku Cerita Rakyat
Oleh Andi AsrawatyKetua Yayasan Pendidikan Buol Educare, Penulis Buku Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya
Sejak pertama kali mendengar kisah Boyo Pogut dalam Festival Pesona Buol, saya mulai mencari-cari cerita tentangnya. Pencarian itu membawa saya pada sebuah monolog tentang Boyo Pogut yang kemudian membuka ketertarikan saya lebih jauh terhadap cerita rakyat ini.
Ketertarikan itu lalu saya tuangkan dalam sebuah esai yang dimuat dalam kumpulan tulisan Kisah-Kisah dari Tanah Pogogul. Namun rupanya, perjalanan saya bersama Boyo Pogut tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2022, kami membuat sebuah pertunjukan teater anak berjudul Boyo Pogut Podoyo Pitanah yang ditampilkan dalam Festival Pesona Buol. Pertunjukan tersebut melibatkan kurang lebih 50 anak di atas panggung dan menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Akan tetapi, rasa cinta saya terhadap kisah Boyo Pogut terus tumbuh. Saya ingin cerita ini tidak hanya hidup di atas panggung pertunjukan, tetapi juga hadir dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca, dikenang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Hingga akhirnya pada tahun 2025, saya mengajukan proposal kegiatan melalui program Dana Indonesiana dengan salah satu agenda utamanya adalah proses penulisan cerita rakyat Boyo Pogut yang dilanjutkan dengan kegiatan bedah buku.
Alhamdulillah, proposal kami berhasil mendapatkan pendanaan bergengsi Dana Indonesiana. Melalui dukungan tersebut, saya bersama Pak Kasmir Sy Male dan Pak Supriadi mulai menyusun dan menulis kembali berbagai cerita rakyat Buol—beberapa di antaranya bersumber dari buku Cerita Rakyat Buol karya Maryam G. Mailili. Setelah melalui proses pembacaan ulang dari berbagai sumber, diskusi, penulisan, dan penyuntingan yang cukup panjang, akhirnya kisah Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya berhasil kami rampungkan pada akhir April 2026.
Karena ini adalah cerita rakyat Buol, kami merasa proses penulisannya perlu mendapatkan ruang diskusi bersama para tokoh budaya dan masyarakat sebelum diterbitkan secara resmi. Jika biasanya bedah buku dilakukan setelah buku terbit, maka Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya justru kami bedah dalam tahap praterbit. Tujuannya adalah untuk meminimalisir kesalahan, memperkaya sudut pandang, dan mengurangi perbedaan persepsi yang mungkin muncul dalam proses penulisan cerita rakyat ini.
Dan besok, tepat pada Sabtu, 23 Mei 2026, kami akan mengadakan kegiatan Bedah Buku Boyo Pogut dan Tanda Merah di Pipinya dengan menghadirkan beberapa tokoh penting di Kabupaten Buol. Di antaranya Dr. Tonang Mallongi Sahura selaku Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Buol sekaligus Dewan Adat Buol, Mami Maryam G. Mailili sebagai budayawan, maestro Bugis, dan penulis Cerita Rakyat Buol, serta Ibu Zakiyah Mahmud dari kalangan pendidik, penulis, sekaligus Ibu Wakil Bupati Buol.
Bagi saya, Boyo Pogut bukan sekadar cerita tentang kebohongan dan hukuman. Lebih dari itu, Boyo Pogut adalah pengingat bahwa fitnah dan ucapan yang tidak dijaga dapat melukai banyak pihak. Namun di sisi lain, kisah ini juga mengajarkan bahwa setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri.
Hari ini, Boyo Pogut tidak lagi membawa fitnah. Ia hadir kembali melalui cerita, panggung, dan buku sebagai bagian dari upaya merawat ingatan budaya masyarakat Buol. Dari mulut yang dahulu membawa kebohongan, kini Boyo Pogut justru menjadi jalan untuk menyampaikan nilai, literasi, dan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda.
Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari upaya menjaga cerita rakyat Buol agar tetap hidup, dikenal, dan dicintai oleh anak-anak di tanahnya sendiri.

0Komentar